PERAWATAN DAN PEMAHAMAN TERHADAP LUKA BAKAR DERAJAT II PADA KULIT MENGGUNAKAN BAHAN ALAMI
PERAWATAN DAN PEMAHAMAN TERHADAP LUKA BAKAR DERAJAT II PADA KULIT MENGGUNAKAN BAHAN ALAMI
Alifia Isni
Nursanti
STr Keperawatan
Lawang
isnialifia@gmail.com
ABSTRAK
: Luka bakar adalah luka akibat kontak
panas yang menyebabkan kerusakan pada lapisan kulit. Penyembuhan luka bakar
dengan menggunakan pasta gigi dan sejenisnya dapat menimbulkan infeksi. Pada
perawatan luka bakar derajat II, ada tiga tahapan fase, yaitu fase tahapan,
fase darurat, dan fase akut. Luka bakar derajat II ada yang dalam dan ada pula
yang dangkal. Setiap luka bakar memiliki perbedaan waktu penyembuhan menurut
kedalamannya. Proses perawatan luka dilakukan dengan pemberian obat dan
penutupan luka. Proses penyembuhan luka bakar derajat II dapat dilakukan dengan
memberi bahan-bahan alami. Zat – zat yang terkandung dalam bahan alami untuk
luka bakar berfungsi mempercepat penyembuhan dengan efektif. Kebutuhan nutrisi
pasien luka bakar juga harus terpenuhi. Pada pasien luka bakar berat perlu
adanya cairan sesuai standar yang diberikan.
Kata
Kunci : Luka Bakar Derajat II, Perawatan, Zat
Pendahuluan
Luka bakar adalah luka yang terjadi akibat panas
yang mengenai lapisan kulit sehingga menimbulkan luka. Masyarakat seringkali
memberi pertolongan pertama pada luka bakar dengan menggunakan pasta gigi dan
sejenisnya, padahal hal itu bisa menimbulkan infeksi dan menghambat penyembuhan
luka. Luka bakar perlu penanganan yang tepat dan pertolongan pertama yang
sesuai. Pembahasan tentang luka bakar ini bertujuan agar penanganan dan
perawatan terhadap luka bakar dapat dilakukan dengan benar dan efektif,
terutama pada luka bakar derajat II yaitu luka bakar yang sering dialami.
Derajat pada luka bakar dapat diketahui dari luas, letak dan kedalaman luka
tersebut. Ada tiga fase tahapan dalam proses penyembuhan atau perawatan luka
bakar derajat II. Penutupan luka setelah perawatan luka bakar derajat II harus
dilakukan dengan benar. Selain dengan obat – obatan, perawatan luka juga dapat
diberikan dengan bahan – bahan alami dengan memperhatikan kandungan yang ada
pada bahan alami tersebut. Dengan bahan alami, luka bisa lebih sembuh dengan
cepat dan efektif.
Pembahasan
“Luka bakar adalah luka
iskemi dimana terjadi trombosis pada arteriole, kapiler, venule, bahkan
kadang-kadang pada pembuluh darah yang lebih besar” (Adrianto, 2003:5). Sedangkan
menurut Hatta, Pamungkas & Nugraha (2015:1)
“Luka
bakar adalah cedera terhadap jaringan yang disebabkan oleh kontak terhadap
panas kering (api), panas lembab (uap atau cairan panas), kimiawi (seperti
bahan bahan korosif), bahan bahan elektrik (arus listrik atau lampu), friksi,
atau energi elektromagnetik dan radian”. Kulit yang mengalami luka bakar akan
terdapat kerusakan pada lapisan epidermis, dermis ataupun subkutan bergantung
pada yang menyebabkan dan lamanya (Fithriyah, Arifin, & Santi, 2013:25).
Marwati
dan Ghofar (2014:39) mengatakan bahwa luka bakar di kedalaman dermis pada luka
bakar grade II, mengakibatkan banyak pembuluh darah yang nekrosis, yang
membutuhkan waktu lama untuk menumbuhkan pembuluh darah baru. Di masyarakat,
luka bakar sering diobati dengan mengolesi minyak, pasta gigi, mentega, atau
kecap, padahal hal itu dapat menghambat proses penyembuhan dan bertambahnya
resiko infeksi (Widianingtyas,Wihastuti, & Setijowati, 2014:224)
Untuk perawatan pada luka bakar, ada tiga fase
tahapan, fase darurat / resusitasi, fase akut / intermediate dan fase
rehabilitasi (Yulida, 2014:515). Ada jangka waktu penyembuhan luka bakar,
Purwaningsih dan Rosa (2016:73) mengemukakan bahwa luka bakar derajat II yang
dangkal bisa sembuh dalam 10-14 hari, sedangkan luka bakar derajat II yang
dalam bisa sembuh dalam 25-35 hari.
Jika
pada anak, (Suryaningsih, :3) luka bakar yang dialami dengan trauma fisik dan
emosi berasal dari luka yang dialami, prosedur ganti balutan dan linnya yang
berkaitan dengan proses penyembuhan. Pada luka bakar derajat II (superfisial),
dilakukan perawatan luka setiap hari, pertama luka diolesi salep antibiotik,
lalu dibalut perban katun kemudian dibalut lagi dengan perban elastik. Jika
dengan cara lain, luka ditutup dengan penutup luka sementara dari bahan alami (Xenograft
(pig skin) atau Alograft (homograft, cadaver skin)) atau bahan sintetis
(opsite, biobrane, trancyte, integra) (Yovita, 2012:6). Proses penutupan luka
dan penyembuhan luka bakar secara alami dapat menggunakan daun jambu biji.
Sari, Aini, & Dewi (2016:47) daun jambu biji (Psidium guajava) mengandung tanin, minyak atsiri, saponin,
flavonoid yang dapat mempercepat sembuhnya luka.
Zat
flavonoid dan polifenol sebagai antiseptik dan antioksidan, sedangkan saponin ialah
zat yang memicu pembentukan kolagen, yaitu protein struktur yang berfungsi dalam
proses penyembuhan luka. (Setyani & Yuswinda, 2016:52). Menurut Negara,
Ratnawati, & Dewi (2014:92) ekstrak etanol daun sirih mempunyai nutrisi
yang dibutuhkan untuk proses penyembuhan luka yaitu vitamin A dan vitamin C
yang bekerja secara sinergis untuk menyembuhkan luka secara optimal pada luka
bakar. Daun petai cina juga efektif dalam menyembuhkan luka bakar derajat II
dalam, dapat dilihat dari kandungan, adaptasi lingkungan tumbuhan, pengolahan,
efisiensi, dan terjangkaunya pada masyarakat (Rohmah, Fuadah, & Girianto,
2016:32). Untuk pemenuhan nutrisi pada korban luka bakar, jika luka bakar minor
pemenuhannya dapat melalui oral, sedangkan pada pasien luka bakar minor
pemenuhan nutrisinya melalui enteral yang dapat mencegah atropi mukosa saluran
cerna dan translokasi bakteri dalm lambung (Gurnida, 2011:10). Sedangkan untuk
masalah pada pasien luka bakar berat selama emergency, pelayanannya harus
diberikan resusitasi cairan sedini mungkin berdasar pada formula yang telah di
standarkan pada masing-masing rumah sakit (Laksmi, 2016:14).
Penutup
Kesimpulan
Luka bakar derajat II terdapat tiga fase dalam proses
penyembuhan. Penyembuhan luka berlangsung selama 10-14 hari jika dangkal, dan
25-35 jika dalam. Proses penutupan luka
dapat diberikan bahan – bahan alami agar mempercepat penyembuhan luka seperti
daun jambu biji, daun sirih, dan daun petai cina.
Saran
Untuk perawatan luka bakar, sebaiknya tidak menggunakan
pasta gigi atau kecap, akan lebih efektif dan lebih cepat dalam penyembuhan
jika menggunakan bahan – bahan alami.
Daftar Rujukan
Adrianto.
(2003). Diambil kembali dari http://eprints.undip.ac.id/12302/1/2003PPDS664.pdf
Fithriyah,
N., Arifin, S., & Santi, E. (2013). LUMATAN DAUN SIRIH MERAH (Piper
crocatum) TERHADAP LAMA PENYEMBUHAN LUKA BAKAR DERAJAT II PADA KULIT KELINCI
(Cavia cobaya). Jurnal Keperawatan dan Kesehatan , 25.
Gurnida,
D. A. (2011). Google Scholar. Dipetik September 11, 2018, dari
http://repository.unpad.ac.id/id/eprint/17657
Laksmi,
A. (2016). ANALISIS KORELASI WAKTU PEMBERIAN RESUSITASI CAIRAN TERHADAP
MORTALITAS PASIEN LUKA BAKAR BERAT FASE EMERGENCY. Jurnal Dunia Kesehatan ,
14.
Marwati,
H., & Ghofar, A. (2014). AKTIVITAS ANTIOKSIDANT FLAVONOID TERHADAP
PERUBAHAN HISTOLOGI PROSES PENYEMBUHAN LUKA BAKAR GRADE II. Jurnal EduHealth
, 39.
Negara,
R. F., & Retty Ratnawati, D. D. (2014). Pengaruh Perawatan Luka Bakar
Derajat II Menggunakan Ekstrak Etanol Daun Sirih (Piper betle Linn) Terhadap
Peningkatan Ketebalan Jaringan Granulasi pada Tikus Putih (Rattus norvegicus)
Jantan Galur Wistar. Majalah Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas
Brawijaya , 92.
Purwaningsih,
L. A., & Rosa, E. M. (2016). RESPON ADAPTASI FISIOLOGIS DAN PSIKOLOGIS
PASIEN LUKA BAKAR YANG DIBERIKAN KOMBINASI ALTERNATIVE MOISTURE BALANCE
DRESSING DAN SEFT TERAPI DI RSUD DR. SARDJITO YOGYAKARTA. Jurnal Ilmiah
Kesehatan Politeknik Kesehatan Majapahit , 73.
Hatta
R.D., Pamungkas K.A., & Nugraha D.P. (2015). PROFIL PASIEN KONTRAKTUR YANG
MENJALANI PERAWATAN LUKA BAKAR DI RSUD ARIFIN ACHMAD PERIODE JANUARI
2011-DESEMBER 2013. Jurnal Online Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas
Riau , 1.
Rohmah,
S. N., Fuadah, D. Z., & Girianto, P. W. (2016). EFEKTIVITAS DAUN PETAI CINA
(Leucanea leucochepala) DAN DAUN JARAK PAGAR (Jatropha curcas) TERHADAP PROSES
PENYEMBUHAN LUKA BAKAR GRADE II PADA TIKUS PUTIH. JUrnal Ilmu Keperawatan ,
32.
Sari,
M. K., & Efa Nur Aini, S. T. (2016). PENGARUH DAUN JAMBU BIJI (Psidium
guajava) TERHADAP PENYEMBUHAN LUKA BAKAR GRADE II PADA TIKUS PUTIH WISTAR
JANTAN. Jurnal Keperawatan Keperawatan Respati Yogyakarta , 47.
Setyani,
P., & K, Y. (2016). Efek Lumatan Daun Pepaya (Carica papaya L.) terhadap
Proses Penyembuhan Luka Bakar Derajat II Dangkal pada Tikus Putih (Rattus
novergicus) Galur Wistar. Medica Hospitalia - Journal Of Clinical Medicine
, 52.
Suryaningsih,
C. (t.thn.). Google Scholar. Dipetik September 11, 2018, dari
http://docshare01.docshare.tips/files/20397/203977103.pdf
Widianingtyas,
D., & Titin Andri Wihastuti, N. S. (2014). Pengaruh Perawatan dengan
Ekstrak Daun Pegagan (Centella asiatica) dalam Mempercepat Penyembuhan Luka
BakarDerajat 2 Dangkal pada Tikus Putih (Rattus norvegicus) Strain Wistar. Majalah
Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya , 224.
Yovita,
S. (2012). Google Scholar. Dipetik September 11, 2018, dari
https://scholar.google.co.id/scholar?hl=id&as_sdt=0,5&q=pasien+luka+bakar+nutrisi+luka+bakar+dr.+safriani+yovita
Yulida.
(2014). Penerapan Metoda Perawatan Luka Bakar dengan Menggunakan Prontosan dan
NaCl 0,9% terhadap Penyembuhan Luka Bakar Terinfeksi. Jurnal Riset Kesehatan
, 515.
Komentar
Posting Komentar